Rabu, 05 Oktober 2011

MILAN ... EVOLUSI, ESTETIKA DAN KEINDAHAN DI LAPANGAN

Tak terasa hitungan hari telah menapakan kembali kepada tanggal 4 oktober, tanggal yang memiliki sejarah tersendiri bagi saya secara pribadi, karena 24 tahun yang lalu untuk pertama kalinya saya jatuh hati kepada tim yang kini menjadi kebanggaan orang banyak di seluruh dunia….AC Milan

Ada alasan tersendiri kenapa saya menjatuhkan pilihan kepada tim ini pada waktu itu, ketika banyak orang lebih memuja Napoli dengan Diego Maradona ataupun Juventus yang pada waktu itu masih dihuni pemain-pemain yang berlebel timnas Italy.

Pelatih Milan waktu itu Arrigo Sacchi memberikan gebrakan di dunia sepakbola Italy yang kental dengan Catenaccionya. Sacchi berani mengubah paradigma sepakbola Italy dengan mengadopsi Kick and Rush nya tim Inggris yang kemudian dikombinasikan dengan pertahanan gerendel ala catenaccio. Maka jadilah Milan dengan permainan terbuka, menyerang namun tetap tangguh dan kokoh di pertahanan. Fungsi bertahan tidak melulu dibebankan kepada Franco Baressi maupun para defender lainnya, pemain depan dan pemain tengah pun memiliki tanggungjawab yang proporsional dalam melakukan pressing sebelum para pemain lawan bertemu dengan pemain belakang. 

Sungguh indah, pertahanan catenaccio italy dikombinasikan dengan kick and rush inggris sementara di lapangan para pemainnya memiliki pengalaman dan kebiasaan gaya bermain total football. Maka jadilah Milan sebagai The Dream Team, julukan yang mengadopsi tim basket USA saat itu yang tanpa tanding. Julukan The Dream Team sendiri hingga saat ini tidak ada yang berani menggunakannya lagi, termasuk Barcelona ataupun Real Madrid sekalipun. Rekor tanpa kalah sepanjang tahun 1991-1992 menahbiskan bahwa tiada lagi tim yang dapat melakukannya hingga hari ini.

Satu fakta lagi, bahwa tim hebat ini adalah tim yang setiap masa pelatih/manager selalu memberikan warna baru dan inovasi-inovasi yang brilian. Dimulai dengan perubahan gaya main catenaccion yang dipadu dengan kick and rush Inggris namun diaplikasikan oleh pemain-pemain yang terbiasa dengan total football pada masa pelatih Sacchi. Fabio Capello kemudian memberikan sentuhan magis pada sisi sayap, Roberto Donadoni serta Dejan Savicevic yang sejatinya adalah penyerang tengah mendapat kesuksesan ketika mereka ‘dipaksa’ bermain di sektor sayap dan fakta membuktikan kemudian posisi baru mereka itu memberikan ‘penghakiman’ pada Barcelona saat final Champions 1994. Hasil akhir pertandingan 4-0 atas tim Spanyol itu memberikan bukti kesaktian inovasi Capello saat itu.

Setelah era Capello, inovasi dilakukan pula oleh Alberto Zaccheroni, bagaimana dia mengubah seorang Marcell Desailly dari posisi awalnya sebagai Defender kemudian merasa nyaman sebagai gelandang tengah. Posisi yang kemudian juga dipergunakan oleh Aimee Jacquet ketika membawa Perancis menjadi juara dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka pada 1998.

Yang terbaru dan tentunya evolusi terhebat adalah ditunjukkan oleh Carlo Ancelotti, sangat layak kalau saya bilang bahwa Carletto memiliki insting yang sama sebagai Einstein di dunia sepakbola atas inovasi-inovasinya di lapangan. Bagaimana dia merubah Andrea Pirlo yang sebelumnya bermain sebagai trequartista, di tim Milan ia kemudian berevolusi menjadi gelandang bertahan dengan gaya deep lying midfielder. Dan faktanya sampai sekarang timnas Italy memiliki ketergantungan kepada Pirlo di posisi pemberian Carletto tersebut, fakta jelasnya adalah Piala Dunia 2010 bagaimana limbungnya timnas Italy ketika Pirlo tidak bisa tampil karena cedera.

Kemudian Clarence Seedorf yang awalnya adalah gelandang serang, sekarang dia bisa berfungsi di 4 posisi yang berbeda : sayap kiri, penyerang lubang, gelandang tengah dan bahkan pernah berfungsi sebagai deep lying midfielder mengisi posisi Pirlo yang pada waktu itu cedera.

Lalu Ignazio Abate, penyerang sayap yang kemudian hingga saat ini lebih menikmati peran barunya sebagai full back sayap.

Selanjutnya salah satu penemuan terbesar Carlo Ancelotti adalah Ricardo Kaka Izecson, datang ke Milan sebagai pelapis Rui Costa namun kemudian menjadi pemain yang lebih besar dari seniornya itu. Padahal dari data yang saya dapat, ketika masih bermain di Brazil posisi Kaka adalah seorang penyerang murni. Di Milan dia diposisikan sebagai trequartista atau penyerang lubang, dan kemudian dunia mencatat 2 kali sebagai pemain terbaik dunia dengan posisinya barunya itu. Ancelotti juga yang berjasa terhadap Jankulovski, Serginho, Kaladze yang pada akhirnya memiliki multifungsi di lapangan.

Saya melewati perjalanan panjang tim ini dengan pelatih-pelatih yang berbeda, Arrigo Sacchi, Fabio Capello, Oscar Washington Tabarez, Fatih Terim, Alberto Zaccheroni, Carlo Ancelotti, Leonardo hingga sekarang Massimiliano Allegri. Tentunya dengan segala kekurangan dan kelemahan, prestasi Milan yang mendunia adalah kebanggaan bagi saya hingga saat ini sudah 24 tahun mengagumi dan menjadikan tim ini sebagai favorit yang tak tergantikan.

Keindahan di lapangan I Meraviglioso adalah jaminan, tidak melulu mengejar kemenangan tapi estetika bermain yang baik adalah filosopi yang senantiasa dipegang oleh pelatih maupun punggawa tim ini dalam menapaki keberhasilan hingga saat ini.

Forza Rossoneri … aku kan tetap berada disini ….
Garut, 4 Oktober 2011
 


link :
https://www.facebook.com/notes/sjandra-ysantana-abina-hugihardhana/milan-evolusi-estetika-dan-keindahan-di-lapangan/10150328660584892

Tidak ada komentar:

Posting Komentar