Senin, 21 Agustus 2006

KEPADA KAU NURANI YANG TERBELENGGU

demi masa yang terus berganti, berdetik, bermenit,
tak terasa kini hinggap kita kembali
di akhir masa seperti satu tahun yang silam
perjalanan yang panjang dan berliku
hanya kadang berakhir dengan peluh dan keluhan
kenapa tak semua langkah jadi kenyataan
yang bisa membuat kita bangga ?

jawabannya hanya satu,
itu ada di hati kita
apa itu ?
coba saja kau korek sisi-sisi hatimu,
bilakah kau temukan secarik jawab
segera saja kau buka tiap lembar buku harian di hatimu,
hendakkah kau bisa temukan coretan itu
yang telah dicatat dari apa intrik nurani di tiap perhentian kereta kehidupan
atau pula kau dengarkan detak jantungmu,
niscaya dia menyenandungkan rekaman perjalanan dan perasaan

bila kau tak temukan,
tunggulah sampai hari kan berakhir di penghujung malam,
pergilah ke mimpimu,
carilah jawaban yang kau inginkan itu
karena mimpi tak pernah berdusta,
karena mimpi gambaran yang kau buat tiap petang,
atau juga kaleidoskop yang kita putar
dari setiap deru nafas kemarin, dan hari-hari yang telah berlalu

wahai kau insan yang berbudi, berfikir, berakal,
hendaklah kau dengar apa yang tersurat
setiap fajar di arah surau dekat rumahmu
lantunan ayat suci itu adalah petunjuk yang harus kau curah ke hati
agar asa yang ada di jiwa tetap sadar akan keliru yang sudah terbuat
terhadap segala waktu yang telah terbuang,
akan kering nurani yang di belenggu perasaan yang semenjana
demi apa yang terdengar,
kebenaran itu mutlak
tak hakiki akan surga yang dirayukan dari lembaran-lembaran kalamulloh

genggamlah segala persembahan kepada-Nya Yang Maha Agung,
raihlah esok dengan kesejukan air di waktu subuh,
sambut matahari dengan segarnya di bawah teriknya yang tajam,
singgahlah di sore sebelum lembayung datang menghampiri,
lalu kala sang surya tenggelam masuklah engkau akan kerinduan pada-Nya,
dan akhiri hari-hari lelahmu sebelum malam semakin mangkat kedalam gelap
dengan senyuman ketika mengucap salam

untukmu siapa saja,
semoga nurani tak pernah lari,
semoga belenggu hanya ada di kisah ini saja

garut, 27 rajab 1427H / 21 agustus 2006



ISTANA ATAP LANGIT

jauh disana diatas segala yang kita punya
ketika berabad silam telah didendangkan
alunan perintah nan suci
kepada hamba yang paling dicintai
utusan pengemban amanat alam

malam yang kelam
kala diperjalankan di sepertiga malam
menuju ke matahari pergi
berjalan bersama cahaya yang telah dulu berlalu
berteman angin, Jibril, dan api angkara
rendah hati telusuri sisi-sisi semesta
menghadap Sang Maha Akbar
untuk menerima perintah

di penghujung perjalanan
di istana-Mu yang beratap langit
di kerajaan-Mu yang berdinding semesta
dibawah singgasana-Mu yang berpijakkan diatas arasy
redup agung tergaung hingar bingar surga
menyibak hangat dari panas api neraka

dan ketika kembali ke pagi hari
segenap perasaan yang dulu kelu
tercurah seketika pada setiap kepingan hati
membahana seluruh alam semesta
senyum gunung tersungging
langit pun tersipu dibalik rimbun awan
samudera bergelora riang gembira
sambut pencerahan umat manusia
demi satu tujuan cita-cita
bahwa kita bisa meraih surga
tinggal lagi kepada kita

kalaupun apa yang kita ingin
tak sejalan dengan lintasan waktu
maka jangan salahkan takdir
jangan pula kambing hitamkan kehidupan
karena jalan yang telah dipersiapkan buat kita
adalah kesempurnaan yang sesungguhnya
kalaupun kita kemudian salah memilahnya
maka itulah sebenarnya kita
akankah …

garut, 27 Rajab 1427H / 21 Agustus 2006




Kamis, 23 Maret 2006

KEPADA KAUM YANG BERBAKTI --cermin di akhir syafar 1426 h--

catatan sore ini …
kembali kami lembar, bait demi bait
sama seperti ketika berhari yang lalu
terkumandangkan akan jerih segala keinginan
menepikan semua peluh dan keringat yang terurai
hilang segala terjal kemarin yang dilalui
sebilah senyum yang tersungging malu
menjadi bagian tutur kata yang terangkai sekarang