Sabtu, 29 Oktober 2011

83 TAHUN SUMPAH PEMUDA --ketika sumpah telah menjadi sampah-

delapan puluh tiga tahun
hitungan yang berganti tiap hari
bersama-sama matahari berjalan mengitari pagi
bersama-sama hari merangkai cerita dan kisah
bersama-sama senja dan malam terlelap dalam mimpi
dan memang hari ini
masihlah cita-cita itu
tetap menjadi mimpi-mimpi yang membuai

satu nusa 
satu bangsa
satu bahasa
didengungkan dengan hati
diyakinkan dengan nyawa
dirasakan dengan jiwa
dan diperjuangkan dengan darah serta do’a
mungkin masih menggema
tapi….
hanya diatas catatan buku sekolah
dan di riang canda
anak-anak TK dan Sekolah Dasar
ketika upacara peringatan tiba

hingga……kini
telah pudar tampaknya
kebanggaan itu sepertinya tampak jadi bias
ketika nurani telah terbelah
antara keinginan dan nafsu serakah
ketika hati telah bercabang
antara kekuasaan dan kedudukan
sehingga sumpah yang begitu indah
kini mungkin hanya serapah seperti sampah
kala satu tujuan
kini hanya kenangan
ketika satu nusa dan bangsa
kini hanyalah pecahan kaca yang berserakan
ketika satu bahasa
kini telah terkikis dengan ke’asingan’

tak terhingga kiranya
jiwa-jiwa yang telah tiada
dan kini menghias di pelataran taman makam pahlawan
atau yang terkubur di rimba dan kebun-kebun tanpa nama
atau juga yang terpusara di samudera tanpa karangan bunga
namun apa daya
yang tersisa kini
kembali
hanya kisah-kisah epik
dan cerita-cerita yang terkarang indah
diatas pelajaran sejarah
dan kiranya waktu akan terus berputar
bertambah serta berlarian
lalu mungkin
semua akan sirna
ditelan zaman …

garut, 28 oktober 2011
memperingati 83 tahun sumpah pemuda














link :
https://www.facebook.com/notes/sjandra-ysantana-abina-hugihardhana/83-tahun-sumpah-pemuda-ketika-sumpah-telah-menjadi-sampah-/10150357866509892

Tidak ada komentar:

Posting Komentar