demi masa yang terus berganti, berdetik, bermenit,
tak terasa kini hinggap kita kembali
di akhir masa seperti satu tahun yang silam
perjalanan yang panjang dan berliku
hanya kadang berakhir dengan peluh dan keluhan
kenapa tak semua langkah jadi kenyataan
yang bisa membuat kita bangga ?
jawabannya hanya satu,
itu ada di hati kita
apa itu ?
coba saja kau korek sisi-sisi hatimu,
bilakah kau temukan secarik jawab
segera saja kau buka tiap lembar buku harian di hatimu,
hendakkah kau bisa temukan coretan itu
yang telah dicatat dari apa intrik nurani di tiap perhentian kereta kehidupan
atau pula kau dengarkan detak jantungmu,
niscaya dia menyenandungkan rekaman perjalanan dan perasaan
bila kau tak temukan,
tunggulah sampai hari kan berakhir di penghujung malam,
pergilah ke mimpimu,
carilah jawaban yang kau inginkan itu
karena mimpi tak pernah berdusta,
karena mimpi gambaran yang kau buat tiap petang,
atau juga kaleidoskop yang kita putar
dari setiap deru nafas kemarin, dan hari-hari yang telah berlalu
wahai kau insan yang berbudi, berfikir, berakal,
hendaklah kau dengar apa yang tersurat
setiap fajar di arah surau dekat rumahmu
lantunan ayat suci itu adalah petunjuk yang harus kau curah ke hati
agar asa yang ada di jiwa tetap sadar akan keliru yang sudah terbuat
terhadap segala waktu yang telah terbuang,
akan kering nurani yang di belenggu perasaan yang semenjana
demi apa yang terdengar,
kebenaran itu mutlak
tak hakiki akan surga yang dirayukan dari lembaran-lembaran kalamulloh
genggamlah segala persembahan kepada-Nya Yang Maha Agung,
raihlah esok dengan kesejukan air di waktu subuh,
sambut matahari dengan segarnya di bawah teriknya yang tajam,
singgahlah di sore sebelum lembayung datang menghampiri,
lalu kala sang surya tenggelam masuklah engkau akan kerinduan pada-Nya,
dan akhiri hari-hari lelahmu sebelum malam semakin mangkat kedalam gelap
dengan senyuman ketika mengucap salam
untukmu siapa saja,
semoga nurani tak pernah lari,
semoga belenggu hanya ada di kisah ini saja
garut, 27 rajab 1427H / 21 agustus 2006
Senin, 21 Agustus 2006
ISTANA ATAP LANGIT
jauh disana diatas segala yang kita punya
ketika berabad silam telah didendangkan
alunan perintah nan suci
kepada hamba yang paling dicintai
utusan pengemban amanat alam
malam yang kelam
kala diperjalankan di sepertiga malam
menuju ke matahari pergi
berjalan bersama cahaya yang telah dulu berlalu
berteman angin, Jibril, dan api angkara
rendah hati telusuri sisi-sisi semesta
menghadap Sang Maha Akbar
untuk menerima perintah
di penghujung perjalanan
di istana-Mu yang beratap langit
di kerajaan-Mu yang berdinding semesta
dibawah singgasana-Mu yang berpijakkan diatas arasy
redup agung tergaung hingar bingar surga
menyibak hangat dari panas api neraka
dan ketika kembali ke pagi hari
segenap perasaan yang dulu kelu
tercurah seketika pada setiap kepingan hati
membahana seluruh alam semesta
senyum gunung tersungging
langit pun tersipu dibalik rimbun awan
samudera bergelora riang gembira
sambut pencerahan umat manusia
demi satu tujuan cita-cita
bahwa kita bisa meraih surga
tinggal lagi kepada kita
kalaupun apa yang kita ingin
tak sejalan dengan lintasan waktu
maka jangan salahkan takdir
jangan pula kambing hitamkan kehidupan
karena jalan yang telah dipersiapkan buat kita
adalah kesempurnaan yang sesungguhnya
kalaupun kita kemudian salah memilahnya
maka itulah sebenarnya kita
akankah …
garut, 27 Rajab 1427H / 21 Agustus 2006
ketika berabad silam telah didendangkan
alunan perintah nan suci
kepada hamba yang paling dicintai
utusan pengemban amanat alam
malam yang kelam
kala diperjalankan di sepertiga malam
menuju ke matahari pergi
berjalan bersama cahaya yang telah dulu berlalu
berteman angin, Jibril, dan api angkara
rendah hati telusuri sisi-sisi semesta
menghadap Sang Maha Akbar
untuk menerima perintah
di penghujung perjalanan
di istana-Mu yang beratap langit
di kerajaan-Mu yang berdinding semesta
dibawah singgasana-Mu yang berpijakkan diatas arasy
redup agung tergaung hingar bingar surga
menyibak hangat dari panas api neraka
dan ketika kembali ke pagi hari
segenap perasaan yang dulu kelu
tercurah seketika pada setiap kepingan hati
membahana seluruh alam semesta
senyum gunung tersungging
langit pun tersipu dibalik rimbun awan
samudera bergelora riang gembira
sambut pencerahan umat manusia
demi satu tujuan cita-cita
bahwa kita bisa meraih surga
tinggal lagi kepada kita
kalaupun apa yang kita ingin
tak sejalan dengan lintasan waktu
maka jangan salahkan takdir
jangan pula kambing hitamkan kehidupan
karena jalan yang telah dipersiapkan buat kita
adalah kesempurnaan yang sesungguhnya
kalaupun kita kemudian salah memilahnya
maka itulah sebenarnya kita
akankah …
garut, 27 Rajab 1427H / 21 Agustus 2006
Langganan:
Postingan (Atom)

