sayup kudengar bedug bertabuh pilu
menghias suara-suara lantang di lembayung sore
yang mengumandangkan ayat-ayat dari kitab suci
di luar, di serambi Masjid riang anak kecil berhamburan
di seberang, di beranda-beranda rumah cakap orang-orang bersahutan
di dapurnya harum masakan menantang selera
asapnya putih menjulang keangkasa
Kamis, 26 Agustus 2010
Sabtu, 22 Mei 2010
BENGAWAN SOLO ... YANG PERGI JAUH ...
seperti air yang mengalir sampai jauh
kau telah tintakan emas di sejarah
denting gitar yang tak pernah henti
senandungkan sang bengawan yang mengalir
sampai jauh ...
sampai kini ...
sampai esok ...
sampai kapanpun ...
kau telah tintakan emas di sejarah
denting gitar yang tak pernah henti
senandungkan sang bengawan yang mengalir
sampai jauh ...
sampai kini ...
sampai esok ...
sampai kapanpun ...
Kamis, 14 Januari 2010
SENANDUNG DI TANAH MATI
apa benar keadilan itu ada
ya … ada
tapi masih dalam catatan kaki
buku pelajaran di sekolahan
masih nyata
tapi dalam kicauan burung
yang bersenandung ketika sore tiba
dimanakah jiwa-jiwa itu
kemanakah nurani itu
kepada siapakah gantungkan harap
kalau titik nadir telah menjadi
halaman muka hari demi hari
kidung-kidung
yang ditembangkan tiap senja
telah berubah menjadi nyanyian sedih
karena ibu pertiwi telah terluka
tanah tumpah darah
telah mati tertutup mendung
mengangga lubang
pada hati mereka yang semakin buta
ratapan biji-biji coklat
tangisan butir-butir jagung
sendu segenggam kapas
berpadu padan
dengan singgasana indah
di balik jeruji besi yang terbuat dari permata
senandung merdu
mengalun syahdu
di tanah mati negeri ini
di tempat tumpahan darah para kusuma bangsa
yang kini telah jadi pusara
bagi … kebenaran dan keadilan
garut, 14 januari 2010
ya … ada
tapi masih dalam catatan kaki
buku pelajaran di sekolahan
masih nyata
tapi dalam kicauan burung
yang bersenandung ketika sore tiba
dimanakah jiwa-jiwa itu
kemanakah nurani itu
kepada siapakah gantungkan harap
kalau titik nadir telah menjadi
halaman muka hari demi hari
kidung-kidung
yang ditembangkan tiap senja
telah berubah menjadi nyanyian sedih
karena ibu pertiwi telah terluka
tanah tumpah darah
telah mati tertutup mendung
mengangga lubang
pada hati mereka yang semakin buta
ratapan biji-biji coklat
tangisan butir-butir jagung
sendu segenggam kapas
berpadu padan
dengan singgasana indah
di balik jeruji besi yang terbuat dari permata
senandung merdu
mengalun syahdu
di tanah mati negeri ini
di tempat tumpahan darah para kusuma bangsa
yang kini telah jadi pusara
bagi … kebenaran dan keadilan
garut, 14 januari 2010
Langganan:
Postingan (Atom)