ketika satu pagi di hari minggu
kugerai jalan-jalan kasar di pelataran kotaku yang mungil
sambil menghisap segarnya udara pagi itu
kuterantuk pada bayangan yang memilukan yang berlawanan
ditempat itu, tempat itu, tempat itu
kulihat orang, orang, orang
bertaburan, bergelimpangan, terlelap, lelap sekali
disana, seorang terkapar
dimulutnya mendesis bau makanan
dia terkulai karena perutnya terlalu penuh nafsu
diseberangnya, ada lagi yang pulas
nyenyak tidurnya diatas ranjang yang lembut
disampingnya wajah jelita tergolek manja
sementara tangan-tangan halusnya membelai manja
gila ! ! !
mereka membuai mimpi yang sudah basi
sementara di sudut gulita yang kumuh
disisi gerobak usang yang hilang satu rodanya
ada lagi orang yang terlentang membuka langit
dengan perut yang berirama
dan matanya sudah terlalu pedih mengurai air mata
lagi keningnya sudah terlalu jenggah
dengan tanda hitam akibat luka yang tak terobati
mereka tak bisa lelap
karena tak punya mimpi untuk ditiduri
baginya hayalan adalah barang mahal yang langka
aku terdiam
sementara ujung mataku begitu perih kurasakan
untuk menyaksikan pertunjukkan itu
aku tak bisa menangis, aku benci pula tuk tertawa
apalagi ketika kulihat ke lapangan sana
puluhan bendera warna-warni gemerlap menghias kota
tapi … hanya peduli mereka sendiri
terlalu sibuk memancangkan tiang benderanya, setinggi-tinggi
dengan sorot mata buas seakan hendak menerkam yang ada
sementara mulutnya berbuih memaki siapa saja
tak terlihat baginya orang-orang tadi
walaupun pernah tercurah belaian janji
tapi sayang … janjinya masih dalam mimpi, atau memang
hanya sekedar janji …
kupaling mereka, ingin kudekati
kan kumaki, lalu ingin kutendang mereka
sampai seorang lewat didepanku
dengan tangan kanannya menenteng secabik makanan
yang terbungkus daun pisang dan kertas koran yang lusuh
sedang tangan kirinya terpegang secangkir air bening
bungkus itu berisi nasi dan secubit garam
dan setangkai cabe merah di pinggirnya
diletakkan di samping orang sebelah gerobak usang tadi
tercium olehnya dan kemudian bergegas bangun dia
lalu lahap menikmatinya
sang dermawan tersenyum, terenyuh matanya hingga menangis
tak tahu sedih, gembira, kesal atau apa
setelah habis, orang itu beringsut
menoleh kearah sang dermawan
mengangguk pelan, matanya sayu
senyumnya tersungging tulus, “ terimakasih “ pelan sekali
lalu tangannya tengadah kearah angkasa
komat kamit do’a, pengharapan, atau mungkin pula keluh kesah
jari-jarinya yang meranggas mengelus dadanya yang kering
titik air mata basahi pipinya yang tersapu tulang nan keriput
nafasnya diam sesaat
kemudian terlentang lagi seperti tadi
lalu kaku, tak bergeming, dingin
dibibirnya senyumannya tadi tak pernah pergi
pergi pula dia keharibaan Illahi
berlalu dengan segala penderitaan
yang baginya sudah terlalu berat dan pedih
hidup baginya seakan hanya sebuah kewajiban yang mesti dilalui
dunia baginya adalah tempat penghambaan bagi Yang Maha Kuasa
seperti takdirnya itu …
sang dermawan
terdiam tak berperasaan
senyum dan tangis menghampiri bergantian
lalu berakhir dengan juta tanda tanya
apa yang terjadi ? kenapa ini harus terjadi ? …
andai hati kita tahu
andai naluri kita terjaga
andai nurani kita satu dengan hati, rasa dan asa
ah … kosakata ini terlalu rumit
karena jawaban sepertinya tak ingin hinggap
mengertilah sendiri …
garut, 1 april 1999

Tidak ada komentar:
Posting Komentar