Rabu, 23 Desember 1998

BELENGGU NURANI DALAM KOSAKATA

ketika bulan dan matahari bertemu di satu cakrawala
Tuhan telah memberi tanda
keagungan-Nya tiada batas
ketika lalu sekejap bulan tertelan gelap malam
Tuhan makin meyakinkan

itu adalah setitik dari kemahaan-Nya
ketika nurani dan akal budi
telah berubah menjadi perhelatan kata
hasilnya kucuran tetesan darah dan keangkuhan
Tuhan tlah menyadarkan kepada kita
dengan tanda-tanda kebesaran-Nya
bahwa nafsu dan angkara
hanya membuat manusia menuju kekerdilan
semakin tak berarti
atau mungkin kembali tak beradab

lagi benteng tirani yang diombang ambing
dan diluluh-lantahkan rintihan kesakitan ibu pertiwi
malah tegak berdiri dengan congkaknya
lalu memperlihatkan kehebatannya
dengan tangan besinya

di seberang jalan
bendera-bendera berkibar seperti jamur di musim hujan
hiasi dan warnai badai krisis yang menghantam menderu
satu-satu berteriak, berlarian, berkejaran, saling sama lainnya
bertopeng satria perjuang pembela rakyat
meraih simpati anak negeri, satu demi satu
sepuluh demi sepuluh, seratus demi seratus, sampai berjuta
gapai tumpukan taklimat pilahan
demi apa, ah tak usah diungkapkan
rayu seribu janji, ssst … kekonyolan
sembunyi di balik kerah baju yang dinamakan … rakyat
berpijak satu kaki pada buku demokrasi
satu kaki lagi pada mengapit di kaki meja istana bangsa
yang putih hatinya, yang berlumpur mukanya, yang busuk jiwanya
tak terlena, berjalan melangkah bersama

lalu …
para pejuang sejati yang sesungguhnya
yang berjuang dengan keringat maupun darah
dengan meninggalkan buku-buku, serta bangku-bangku kuliah
dari rangkaian usang gerbong keadilan sesungguhnya
lokomotif demokrasinya terhenti diarah yang tak bertuan
sebagian menyeberang, sebagian istiqomah dengan keadaan yang ada
kemudian sedikit-sedikit ditinggalkan, dan … dilupakan
kemudian tersingkir perlahan
suaranyapun seolah tak terdengarkan lagi
kalaupun suaranya terindahkan, hilang terbiaskan sekejap kemudian
kapal reformasinya kemudian terjerat
hampir kandas, terpijak nakhoda-nakhoda bejat berwajah badut politik
mereka menari-nari, mencibir, lucu sekali
para pejuang … tertawa girang bukan main
hiburan yang tak berseni itu
menyakitkan hatinya, walaupun bersimbah air mata dan peluh darah
tapi rintangan itu tak membuatnya gentar
tegar … demi saudara-saudaranya
mereka rakyat-rakyat yang tak berdaya


garut, 23 desember 1998



Tidak ada komentar:

Posting Komentar