Senin, 21 Agustus 2006

ISTANA ATAP LANGIT

jauh disana diatas segala yang kita punya
ketika berabad silam telah didendangkan
alunan perintah nan suci
kepada hamba yang paling dicintai
utusan pengemban amanat alam

malam yang kelam
kala diperjalankan di sepertiga malam
menuju ke matahari pergi
berjalan bersama cahaya yang telah dulu berlalu
berteman angin, Jibril, dan api angkara
rendah hati telusuri sisi-sisi semesta
menghadap Sang Maha Akbar
untuk menerima perintah

di penghujung perjalanan
di istana-Mu yang beratap langit
di kerajaan-Mu yang berdinding semesta
dibawah singgasana-Mu yang berpijakkan diatas arasy
redup agung tergaung hingar bingar surga
menyibak hangat dari panas api neraka

dan ketika kembali ke pagi hari
segenap perasaan yang dulu kelu
tercurah seketika pada setiap kepingan hati
membahana seluruh alam semesta
senyum gunung tersungging
langit pun tersipu dibalik rimbun awan
samudera bergelora riang gembira
sambut pencerahan umat manusia
demi satu tujuan cita-cita
bahwa kita bisa meraih surga
tinggal lagi kepada kita

kalaupun apa yang kita ingin
tak sejalan dengan lintasan waktu
maka jangan salahkan takdir
jangan pula kambing hitamkan kehidupan
karena jalan yang telah dipersiapkan buat kita
adalah kesempurnaan yang sesungguhnya
kalaupun kita kemudian salah memilahnya
maka itulah sebenarnya kita
akankah …

garut, 27 Rajab 1427H / 21 Agustus 2006




Tidak ada komentar:

Posting Komentar