Musim yang fantastis waktu itu, meski saya tidak menonton keseluruhan pertandingan Milan di tayangan tv (karena memang waktu itu TVRI bukan sebagai host serie-A seperti saat ini). Kembalinya TVRI Nasional menayangkan siaran langsung serie-A musim 2012 ini kembali menggugah kenangan indah ketika saya pertama kali mengenal lebih jauh Rossoneri hingga akhirnya memutuskan untuk menjadi pecinta Milan hingga saat ini.
Memang momentum awal kecintaan terhadap Milan pada awalnya lebih besar karena KETIDAKSENGAJAAN serta karena SENTIMEN PRIBADI saja.
PERTAMA : saya mencintai Milan lebih karena ketidaksukaan saya terhadap Maradona yang bermain di Napoli, kenapa ??
Jauh sebelum saya mengenal Milan, saya lebih dahulu mengenal sepakbola adalah pada saat Piala Dunia 1986 ketika saya jatuh cinta kepada tim Inggris dimana ada Gary Lineker disana. Ketika kemudian tragedi ‘tangan tuhan’ menggagalkan Inggris ke Semifinal Piala Dunia 86, maka saya selalu mendukung setiap tim yang berhadapan dengan Argentina dimana Maradona ada disana. Mulai dari mendukung tim Belgia hingga tim Jerman Barat, namun saya sangat tidak puas karena Argentina malah Juara Dunia 86 dengan mengalahkan tim-tim tersebut.
Ketika Maradona hijrah dari Barcelona ke Napoli dan kemudian tim biru langit tersebut dibawanya menjadi scudetto, maka saatnya saya mencari tim yang bisa menghentikan Napoli. Dan pilihan saya jatuh ke Milan yang waktu itu tengah berbenah bersama pemilik barunya Silvio Berlusconi. Dan pilihan saya benar-benar tepat, karena setahun kemudian Milan tampil sebagai scudetto dan mempecundangi Maradona dan Napoli.
KEDUA : alasan saya memilih Milan adalah karena sosok Ruud Gullit, yang beberapa bulan sebelumnya dia tampil di Stadion Siliwangi Bandung memperkuat PSV Eindhoven yang bertanding melawan Persib Bandung saat itu. Sehingga kebanggan atasnama bobotoh Persib menjalar kepada tim yang dibela oleh sang meneer. Makanya ketika dia memutuskan hijrah dari PSV ke Milan rasanya tepat sekali bagi saya untuk mendukung tim ini berkaitan juga dengan alasan pertama diatas.
Alasan yang benar-benar TIDAK SENGAJA tersebut membawa saya menjadi pendukung tim ini hingga kini.
Seakan tidak percaya rasanya bahwa hari ini sudah hitungan 25 tahun saya menjadi seorang pendukung Milan tanpa pernah mengalihkan kecintaan kepada tim Eropa lainnya. Pemain datang dan pergi, pelatih berganti dari musim ke musim, prestasi berdatangan, begitu juga keterpurukan, jatuh hingga hampir mengalami kehancuran. Tapi hati saya tetap tak tergantikan, hingga saat ini sejak 1987 hingga 2012 hitungan terus bertambah, tapi hitungan tim favorit saya masih tetaplah Milan, hanya satu, tim ini jauh lebih berhak mendapat julukan THE SPECIAL ONE bagi saya.
Saya mencintai Milan bukan karena Ruud Gullit, karena kalau dengan sebab itu maka tahn 1993 ketika dia pindah ke Sampdoria maka saya pun seharusnya mengganti tim idola. Saya juga menyukai tim ini bukan karena Franco Baresi, Carlo Ancelotti, ataupun Paolo Maldini serta Pippo Inzaghi, karena ketika mereka memutuskan pensiun saya pun semestinya pensiun mencintai Milan. Begitu juga ketika Dejan Savicevic, Zvonimir Boban, Demetrio Albertini, Rui Costa, Andry Shevchenko, Kaka, Zlatan Ibrahimovic, Thiago Silva memutuskan pindah, maka semestinya saya pun mengikuti kemana mereka pindah. Hal yang dilakukan oleh mereka yang awalnya mengaku Milanisti, namun kemudian mereka pindah hatinya ke tim yang dibela oleh pemain tersebut diatas saat ini.
Saya menjadi Milanisti sudah 25 tahun, meski kadang banyak yang sering bertanya :
“Anda Milanisti Sezione mana ???”
“Mana accesoris Milannya ???”
“Koq ngaku Milanisti tapi tak punya Kartu Anggota Milanisti ???”
“Katanya Milanisti, tapi gak punya scarf, gak punya jersey Milan terbaru ???”
“Masa seorang Milanisti gak ada foto2 Milan di kamarnya???”
Saya memang Milanisti, memang benar saya tidak pernah menjadi anggota organisasi Milanisti Indonesia Sezione manapun, memang benar saya tidak pernah memiliki Kartu Tanda Anggota Milanisti, memang betul saya tidak pernah memiliki syal, pin, atau jersey terbaru tim Milan, memang benar saya hingga saat ini hanya memiliki satu buah foto usang squad Milan.
TAPI JANGAN SEKALI-KALI MENANYAKAN KESETIAAN SAYA TERHADAP TIM INI !!!
Waktu 25 tahun menjadi bukti akan kecintaan terhadap tim ini.
Bagi saya bukan hanya sekedar selembar kartu ID keanggotaan organisasi Milanisti, bagi saya perjalanan panjang selama ini bahkan jauh lebih berharga dari semua aksesoris.
Kecintaan terhadap Milan, tidak bisa dibuktikan hanya dari foto-foto atau selembar jersey.
KESETIAAN DAN KECINTAAN HANYA BISA DIBUKTIKAN DENGAN KOMITMEN UNTUK TETAP MENJAGA HATI DAN JIWA BAGI MERAH-HITAMNYA MILAN.
Dan mudah-mudahan waktu 25 tahun bisa membuktikan semua itu, dimana saya menikmati waktu sepanjang itu untuk tetap mencintai dan menyukai Rossoneri. Sehingga kedepan saya akan semakin bangga memperlihatkan hitungan waktu yang akan terus bertambah setiap tahun, waktu ketika saya tetap meyakini bahwa pilihan saya 4 Oktober 2012 silam tidak salah.
FORZA MILAN SALAWASNA ...
1987 – 2012 ...
TAKKAN TERGANTIKAN ...
link :
https://www.facebook.com/notes/sjandra-ysantana-abina-hugihardhana/takkan-tergantikan-1987-2012/10151317739554892
Tidak ada komentar:
Posting Komentar