Kamis, 26 Agustus 2010

RAMADHAN DALAM SILABUS RUTIN

sayup kudengar bedug bertabuh pilu
menghias suara-suara lantang di lembayung sore
yang mengumandangkan ayat-ayat dari kitab suci
di luar, di serambi Masjid riang anak kecil berhamburan
di seberang, di beranda-beranda rumah cakap orang-orang bersahutan
di dapurnya harum masakan menantang selera
asapnya putih menjulang keangkasa

sementara debat mereka tak pernah henti
entah berdebat tentang apa
mungkin tentang baju baru atau pula ketupat
atau mengenai harga-harga yang berlarian berkejaran

begitu gelap malam membayangi dengan keheningannya
gembira datangnya maghrib membuat anak-anak henti keluhnya hatinya
penantian dari pagi sampai sudah, nikmatnya suasana
hiruk pikuk kemudian
lalu lagi nuansa yang mendayu syahdu
laraslah gemerlap cahaya dan riuhnya nurani
khusyuk sembah menghadap Sang Khaliq
serahkan diri kepangkuan-Nya
tak aral melintang, tak henti tangisan kumandang kepasrahan
juga harap kesejukan dan kedamaian cinta suci-Nya
untuk bekal mengarungi bentangan samudera kehidupan
dan menjelajahi daratan waktu yang berbatu serta berpasir

hitungan hari perlahan membuntuti zaman
namun seakan berlalu cepat seperti cahaya kilat
mengiringi langkah-langkah pasti sang mentari
membersit pada bayang-bayang sang rembulan
yang sembunyi di ufuk bintang sebelahnya
mengintip, tersenyum … lalu berpaling mempesona
menapaki deru nafas, degup jantung dan berbagai gejolak hati
bersama menjalani detik-detik yang tak henti memburu
meraih mutiara hidup yang sejati

nuansa dalam silabus rutin tiap tahun
nuansa di bulan suci seribu kali bulan mati
seolah terekam dan tertayang ulang berkali-kali
seolah itu perhiasan ramadhan yang abadi
seolah jadi agenda tetap tahunan
dalam program perjuangan suci nan panjang
untuk mencari agunan, bekal setelah mati
bersiap menggapai kekekalan yang hakiki
di Firdaus … atau Na’iim …

















link :
https://www.facebook.com/notes/sjandra-ysantana-abina-hugihardhana/ramadhan-dalam-silabus-rutin/425893739891

Tidak ada komentar:

Posting Komentar