Keikutsertaan atlet-atlet olahraga Indonesia pada berbagai even baik di tingkat Asia Tenggara, Asia hingga Dunia bukanlah hanya sekedar mengisi serangkaian jadwal pertandingan yang berujung pada hasil menang atau kalah tetapi kompetisi yang terjadi merupakan sarana untuk mencapai tangga kehormatan bagi negara secara lebih luas.
Jatidiri bangsa menjadi kata “keramat” dalam mencapai prestasi di segala bidang tidak terkecuali dalam bidang olahraga. Prestasi di bidang olahraga yang pada awalnya merupakan indikator berhasil tidaknya pembinaan olahraga di suatu negara, pada akhirnya akan bertransformasi menjadi ajang prestise bagi negara tersebut.
Seorang atlet yang berprestasi di tingkat internasional, akan berimbas terhadap meningkatnya popularitas atlet tersebut, yang pada akhirnya juga akan meningkatkan prestise secara individu. Perkembangan dunia yang terus dinamis dan semakin maju, membuat atlet-atlet berprestasi juga akan dapat menghasilkan pundi-pundi uang baik secara langsung maupun tidak langsung.
Semua mata di seluruh jagat raya sudah barang tentu tahu bahwa dunia olahraga telah bertransformasi ke arah sebuah industri yang menguntungkan baik dari segi ekonomi maupun politik. Ada banyak pihak yang telibat dan berkepentingan didalamnya, mulai dari pemilik modal, pengusaha, pelaku ekonomi kecil, serta dunia politik.
Olahraga selain dijadikan tempat untuk investasi yang menguntungkan, popularitas tim olahraga maupun atletnya sering pula dijadikan sarana mendompleng bagi para politikus dan partai politik demi bisa menjaring massa yang banyak untuk kepentingan politik praktis secara instan.
Hal inilah yang kemudian sedikit memudarkan prinsip-prinsip olahraga itu sendiri menjadi lebih kearah pragmatis. Sportivitas, fair play, persahabatan, ksatria, dan saling menghormati adalah prinsip utama dari olahraga, namun kontaminasi dari dunia industri dan dunia politik sedikitnya telah memudarkan prinsip-prinsip sportivitas itu sendiri.
Padahal sebagaimana diutarakan oleh Lawson (2003) dalam Konferensi Internasional tentang Olahraga dan Pembangunan Berkelanjutan di Yogyakarta, bahwa olahraga memiliki kontribusi terhadap pembangunan setidaknya dalam empat hal:
1. Menghasilkan dan memperkuat jaringan sosial (social network)
2. Membentuk identitas kolektif (collective identities)
3. Memperbaiki kesehatan manusia dan lingkungan.
4. Meningkatkan kesehatan mental individu dan keluarga.
Rumusan Masalah
1. Dunia olahraga di Indonesia berubah ke arah pragmatis dan menjadi sarana bagi para pelaku politik praktis untuk kepentingan sesaat;
2. Pembangunan olahraga di Indonesia menjadi sangat tergantung dengan ada atau tidaknya fasilitas yang disediakan oleh industri keolahragaan itu sendiri;
3. Pada beberapa cabang olahraga, pembinaan berjenjang dan berkelanjutan seakan menjadi tidak penting lagi dan berubah ke cara yang instan.
Maksud dan Tujuan
1. Dunia olahraga harus tetap sebagai tempat berkumpul bagi individu-individu untuk membuat badan sehat, suasana bahagia, kemudian mendapatkan kesehatan prestasi serta membawa nama daerah di tingkat nasional dan nama negara di tingkat internasional;
2. Pembangunan olahraga menjadi tanggung jawab semua pihak baik pemerintah, masyarakat, swasta dan pelaku olahraga itu sendiri dengan tidak selalu bergantung pada fasilitas;
3. Pembinaan berjenjang dan berkelanjutan yang dimulai dari usia dini akan selalu menjadi pilihan terbaik dalam pengembangan potensi olahraga dan masyarakat secara lebih luas.
A. Olahraga dalam Industri
Dunia olahraga saat ini telah bertransformasi dari amatir ke profesional (baca: industri) dimana gelontoran uang terjadi dimana-mana, di belahan Eropa, Amerika, Asia termasuk Indonesia. Para atlet menjadi magnet dan komoditi yang menguntungkan bagi para pemilik modal dalam bisnis olahraga, begitu sebaliknya para atlet menjadikan olahraga menjadi sumber mata pencaharian mereka.
Semua mata dunia terbelalak ketika Gareth Bale ditransfer dari Tottenham Hotspur ke Real Madrid dengan nilai 100 juta poundsterling (setara dengan 1,35 trilyun rupiah) sebuah nilai fantastis yang terjadi di dunia sepakbola, setelah sebelumnya terjadi pula pada Cristiano Ronaldo, Neymar Junior, Kaka, dan sebagainya. Bahkan kalau saja Lionel Messi mau pindah dari Barcelona, beberapa klub besar Eropa siap menggelontorkan berlipat dan jauh lebih besar daripada nilai yang didapat oleh Gareth Bale.
Uang melimpah di dunia olahraga telah menjadikan anak-anak muda berlomba-lomba untuk bercita-cita menjadi seorang atlet hebat dari berbagai cabang olahraga yang mereka minati. Dengan satu tujuan, menjadi terkenal dan memiliki penghasilan melimpah dari hasil kesuksesannya tersebut.
Daftar 10 atlet dengan pendapatan pertahun tertinggi di dunia
No.
|
Nama Atlet
|
Cabang
Olahraga
|
Pendapatan
per tahun
|
1.
|
Floyd
Mayweather
|
Tinju
|
105
juta dolar = Rp. 1,30 trilyun
|
2.
|
Cristiano
Ronaldo
|
Sepakbola
|
080 juta dolar = Rp. 1,04 trilyun
|
3.
|
LeBron
James
|
Bola
Basket
|
072,3 juta dolar = Rp. 940 miliar
|
4.
|
Lionel
Messi
|
Sepakbola
|
064,7 juta dolar = Rp. 841 miliar
|
5.
|
Kobe
Bryant
|
Bola
Basket
|
061,5 juta dolar = Rp. 799 miliar
|
6.
|
Tiger
Woods
|
Golf
|
061,2 juta dolar = Rp. 795 miliar
|
7.
|
Roger
Federer
|
Tenis
Lapangan
|
056,2 juta dolar = Rp. 730 miliar
|
8.
|
Phil
Mickelson
|
Golf
|
053,2 juta dolar = Rp. 691 miliar
|
9.
|
Rafael
Nadal
|
Tenis
Lapangan
|
044,5 juta dolar = Rp. 578 miliar
|
10.
|
Matt
Ryan
|
Rugby
|
043,8 juta dolar = Rp. 569 miliar
|
Data diatas menunjukkan bagaimana gelimang uang para atlet dengan catatan atlet yang masih aktif, mengingat bila dikomparasi lagi pasti ada banyak mantan atlet yang juga masih layak masuk ke dalam daftar seperti Michael Schumacher, David Beckham, Michael Jordan, dll. Itu artinya profesi sebagai atlet menjanjikan untuk ditekuni dengan sungguh-sungguh.
Sementara untuk ukuran atlet di Indonesia memang tidak ada data yang akurat yang bisa ditampilkan. Namun bukan kecenderungan seperti diatas terjadi juga kepada atlet-atlet Indonesia, tentunya dengan nilai nominal yang lebih rendah dan terlalu jauh bila dibandingkan dengan atlet yang berlevel internasional.
Perkembangan industri olahraga di Indonesia memang masih tertinggal dengan negara-negara lain. Masih banyak di negeri ini orang yang awam dengan ”industri olahraga”, banyak dari mereka yang masih berfikiran bahwa industri olahraga itu sebatas pembuatan/memproduksi alat-alat olahraga.
Namun pada saat ini banyak sekali event-event olahraga di Indonesia yang sudah mengarah kepada industri olahraga. Kita bisa melihat Indonesia Super Series, dimana pihak penyelenggara yang bekerjasama dengan PT. Djarum mampu menciptakan diferensiasi yang berbeda dari super series lainnya. Konsep Indonesia Super Series dimana para atlet bulutangkis yang berlaga dan para penonton/fans dapat melebur menjadi satu.
Contoh lain adalah keberhasilan event-event olahraga seperti PROLIGA bola voli yang sudah memadukan antara olahraga dan seni membuat liga professional ini menarik. Dan yang sangat mengesankan adalah bagaimana repositioning IBL menjadi NBL yang mendapat antusias dari penggila basket di tanah air. Dan tentunya bagaimana Indonesia Super League sebelum dibubarkan akibat pembekuan PSSI dan banned oleh FIFA telah mampu menciptakan sebuah industri yang menguntungkan banyak pihak di lingkungan sepakbola dalam negeri maupun luar negeri.
Sejatinya memang tidak ada yang perlu dirisaukan dengan hal ini, perkembangan zaman memungkinkan semua hal ini terjadi. Namun yang patut dirisaukan adalah perubahan paradigma anak-anak muda dengan bakat istimewa di beberapa cabang olahraga yang mulai pragmatis dan menjadikan kesuksesan dalam kacamata gelimang uang sebagai tujuan mereka terjun ke dunia olahraga. Kecenderungan tersebut bisa mengakibatkan memudarnya jiwa sportivitas sebagai fondasi utama dalam membangun sistem keolahragaan itu sendiri.
Kita tidak mau suatu saat anak-anak muda kita lebih memandang kesuksesan sebagai atlet dengan ukuran gelimang uang yang melimpah daripada menjunjung prestasi dan prestise dalam mengangkat nama bangsa dan negara di ajang internasional melalui dunia olahraga.
B. Olahraga dalam Politik
Berhasilnya Indonesia meraih satu medali Perak melalui olahraga panahan pada Olympic Games di Seoul 1988 dan beberapa medali emas, perak dan perunggu melalui cabang olahraga bulutangkis dan angkat besi ternyata mampu menunjukkan kepada dunia Internasional melalui prestasi olahraga.
Peristiwa menarik yang lain adalah pada Olympic Games 1956 di Melbourne, Australia, tim sepakbola Indonesia mampu menahan tim sepakbola Rusia. Hanya setelah perpanjangan waktu, tim Indonesia mengalami kekalahan. Dalam Olympic Games ini Rusia akhirnya sebagai juara. Bagi negara-negara yang memikirkan kesejahteraan rakyatnya jauh ke depan, maka akan menempatkan olahraga pada urutan prioritas yang penting.
Sejak tahun 1950-an, pemerintah pada hampir semua negara di dunia menaruh perhatian terhadap olahraga dengan aneka motif kebijakan, mulai dari nasionalisme hingga pada kesiapan bela negara,. Kita di Indonesia pernah memanfaatkan olahraga sebagai bagian dari platform politik, “nation and character building” hingga peralihan kekuasaan dari Bung Karno ke pemerintahan Soeharto olahraga mengalami perubahan, yang sebelumnya olahraga sebagai alat revolusi diganti menjadi bagian dari pembangunan nasional terutama untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sayang, walaupun olahraga dianggap penting dalam pembangunan kala itu tetap tidak memperoleh prioritas.
Sejak tahun 1966 hingga menjelang tahun 1998, olahraga dimanfaatkan sebagai alat “state building” sementara sistem sentralisasi selama lebih dari tiga dasawarsa belum sempat dikoreksi dengan kelemahan diantaranya memapankan “inequality” atau ketimpangan dalam berbagai bentuk baik kesempatan berolahraga pada tingkat individu maupun ketidakmerataan antar daerah.
Kemajuan di Era global ini, bukan hanya masalah kepentingan negara yang menjadi politik. Tetapi dalam Olahraga pun sudah di jadikan bahan politik, misalnya demi kemenangan sebuah tim sepak bola, seorang manager atau pengurus rela mengeluarkan kocek sampai bermiliar rupiah untuk menyogok wasit agar berpihak kepada meraka dan memberi kemenangan untuk sebuah gengsi dan kekuasaan dan olahraga dimanfaatkan sebagai media propaganda saat zaman pemerintahan Hitler.
Olahraga dengan politik sangat erat kaitannya. Tetapi terkadang karena politik dengan muatan negatif terlalu banyak campur tangan ke dalam olahraga maka akan membahayakan organisasi olahraga, atlet serta masyarakat banyak.
Tidak hanya berkaitan dengan kebijakan politik dalam negeri, olahraga ternyata besar kaitannya dengan politik luar negeri sebuah negara. Kepemimpinan Ir. Soekarno yang sangat tegas di masanya sangat mempengaruhi aktivitas olahraga resmi di Indonesia di luar negeri. Salah satu contohnya adalah ketika sebagai presiden, Ir. Soekarno secara resmi melarang tim nasional Indonesia maju ke babak kualifikasi Piala Dunia 1950 di Brazil sebab di babak penentuan tersebut timnas Indonesia harus melawan Israel yang di mata kebijaksanaan politik luar Indonesia merupakan negara aggressor dan melakukan tindakan perampasan wilayah Palestina.
Maju ke babak final Piala Dunia merupakan kebanggaan bagi suatu negara meski kemungkinan lolos tidaknya timnas Indonesia kala itu masih harus ditentukan hasil dari pertandingan melawan Israel, Indonesia memilih mundur daripada mengakui keberadaan Israel sebagai sebuah negara berdaulat.
Demikian pula halnya yang terjadi pada penyelenggaraan Asian Games (GANEFO) di masa pemerintahan Presiden Soekarno. Penyelenggaraan GANEFO yang dicetuskan Ir. Soekarno pada tahun 1961 sarat bermuatan politis. Beliau mengungkapkan pemikirannya tentang peta politik dunia yang dipengaruhi oleh NEFO (The New Emerging Forces) dan OLDEFO (The Old Established Forces). NEFO di mata Bung Karno sebagai negarawan dipetakan sebagai perwakilan kekuatan baru yang sedang tumbuh yaitu negara Asia, Afrika dan Amerika latin yang baru atau berusaha terbebas dari imperialisme dan neo kolonialisme serta berusaha membangun tata dunia baru. Sementara OLDEFO merupakan golongan negara-negara imperialisme dengan kekuatan lama mereka (old).
Pada masa kini, pengaruh politik terhadap olahraga begitu kental terlihat. Ketika atlet-atlet populer dan berprestasi dijadikan komoditi bagi partai politik dan politikus tertentu untuk kepentingan populis serta penarikan massa yang besar demi kepentingan sesaat mereka, tanpa memperhatikan dan mempedulikan akibat yang akan diterima oleh atlet yang bersangkutan. Salah satu buktinya adalah pada saat Piala AFF 2010, ketika tim yang ditangani Alfred Riedl sedang mengalami peningkatan prestasi dan maju ke babak final, menjadi kehilangan fokus ketika timnas waktu itu diikutsertakan dalam kegiatan ketua umum salah satu partai dengan berbagai kegiatan yang sama sekali tidak berhubungan dengan olahraga. Akhirnya di final kita kembali mengalami kegagalan, karena tim sudah mulai merasakan efek percaya diri berlebihan akibat sering tampil pada acara-acara yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk diikuti oleh mereka.
Jika kita ingin mengerti olahraga dan politik kita harus membaca dua buku yang berbeda karena di zaman seperti sekarang ini jika olahraga dicampur dengan politik akan menjadi sesuatu yang sangat berbahaya. Unsur fairplay hilang, keselamatan atlet terabaikan, tujuan utama olahraga sebagai sarana untuk mencapai atau mendapat kesehatan serta ajang untuk meraih prestasi tercoreng.
PENUTUP
Pada hakikatnya pembangunan olahraga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dan sekaligus merupakan kebutuhan manusia. Oleh karena itu, pembangunan olahraga merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari pembinaan dan pembangunan bangsa dalam rangka peningkatan kualitas Sumber Daya Insani, terutama diarahkan pada peningkatan kesehatan jasmani dan rohani, serta ditujuan untuk membentuk watak dan kepribadian yang memiliki displin dan sportivitas yang tinggi. Di samping itu, pembangunan olahraga juga dijadikan sebagai alat untuk memperlihatkan eksistensi bangsa melalui pembinaan prestasi yang setinggi-tingginya.
Pembangunan olahraga termasuk suatu usaha untuk membentuk manusia dalam totalitasnya, baik jasmaniah maupun rokhaniah, sehingga melalui olahraga dapat memberikan sumbangan dharma baktinya bagi pembangunan bangsa.
Suatu negara yang ingin membangun bangsa yang sehat, kuat dan segar, maka perlu menyusun dan melaksanakan suatu sistem pembangunan olahraga secara menyeluruh yang melibatkan seluruh masyarakat Indonesia. Pembangunan bangsa tidak akan lengkap atau sempurna tanpa pembangunan olahraga, karena aktivitas gerak manusia merupakan modal dasar aktivitas manusia dalam pembangunan.
Olahraga harus tetap mengedepankan prinsip-prinsip sportivitas, persahabatan dan kerja sama. Olahraga mengajarkan kita untuk berjiwa besar, mau menerima kekalahan dengan lapang dada. Sementara bagi pemenang, juga tetap menghormati tim yang kalah dengan tidak melakukan tindakan mencemooh, dan melecehkan. Inilah sebuah nilai sportivitas. Nilai-nilai persahabatan yang ada di olahraga seharusnya bisa diterapkan dalam kehidupan keseharian kita.
Karena pada hakikatnya olahraga juga akan memberikan dampak yang positif bagi para pelaku didalamnya, apalagi dalam masa modern dimana olahraga bisa dijadikan komoditi bisnis dan industri. Seorang atlet/olahragawan akan memiliki kehidupan dan penghidupan yang sangat layak dan lebih dari cukup dengan berkecimpung dalam bidang olahraga yang digelutinya.
Namun kembali bahwa nilai-nilai sportivitas tersebut harus dijalankan dan dijunjung tinggi dengan sungguh-sungguh oleh semua orang. Kesuksesan (baca: kemewahan) tetap bukan menjadi acuan atau tujuan akhir, karena hal itu bukanlah hakikat seseorang terjun dalam dunia olahraga. Kalaupun ada yang meraih kesuksesan diatas, biarlah itu adalah imbas dari prestasi yang diperolehnya. Dengan demikian, pembangunan dan pembinaan keolahragaan akan tetap menjadi satu sistem pendidikan terpadu bagi anak muda di Indonesia dalam mendukung pembangunan bangsa yang lebih luas.
DAFTAR PUSTAKA
Furqon, M. H. (1994). Menggalang Potensi Bangsa Salah Satu Usaha Untuk Mencapai Prestasi Olahraga Yang Membanggakan. Makalah diajukan dalam Rangka Lomba Karya Tulis Ilmiah Inovatif Keolahragaan HAORNAS XI/1994 (Juara I Kelompok Umum).
Gafur, Abdul (1983). Olahraga Unsur Pembinaan Bangsa dan Pembangunan Negara. Jakarta: Kantor Menpora.
Harsuki., Perkembangan Olahraga Terkini Kajian Para Pakar, Divisi Buku Sport PT Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2003.
Satgas Porda XII dan Peparda IV KONI Kabupaten Garut, Laporan Perjalanan Kontingen Kabupaten Garut pada Porda XII dan Peparda IV di Kabupaten Bekasi Tahun 2014, Garut, 2014.
Lawson, H.A., Empowering people and advancing community development: The social work of sport, exercise, and physical education programs. Paper presented in International Conference on Sport and Sustainable Development. Yogyakarta, September 2003.
Mutohir, T.C & Lutan, R., Olahraga dan Transformasi Nilai. Dalam Rusli Lutan, Olahrga dan Etika Fair Play. Direktorat Jenderal Olahraga – Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, 2001.
Maksum, A., Pengkajian Sport Development Indeks (Cetakan 1). Surabaya: University Press, 2004.
Pada hakikatnya pembangunan olahraga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan dan sekaligus merupakan kebutuhan manusia. Oleh karena itu, pembangunan olahraga merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari pembinaan dan pembangunan bangsa dalam rangka peningkatan kualitas Sumber Daya Insani, terutama diarahkan pada peningkatan kesehatan jasmani dan rohani, serta ditujuan untuk membentuk watak dan kepribadian yang memiliki displin dan sportivitas yang tinggi. Di samping itu, pembangunan olahraga juga dijadikan sebagai alat untuk memperlihatkan eksistensi bangsa melalui pembinaan prestasi yang setinggi-tingginya.
Pembangunan olahraga termasuk suatu usaha untuk membentuk manusia dalam totalitasnya, baik jasmaniah maupun rokhaniah, sehingga melalui olahraga dapat memberikan sumbangan dharma baktinya bagi pembangunan bangsa.
Suatu negara yang ingin membangun bangsa yang sehat, kuat dan segar, maka perlu menyusun dan melaksanakan suatu sistem pembangunan olahraga secara menyeluruh yang melibatkan seluruh masyarakat Indonesia. Pembangunan bangsa tidak akan lengkap atau sempurna tanpa pembangunan olahraga, karena aktivitas gerak manusia merupakan modal dasar aktivitas manusia dalam pembangunan.
Olahraga harus tetap mengedepankan prinsip-prinsip sportivitas, persahabatan dan kerja sama. Olahraga mengajarkan kita untuk berjiwa besar, mau menerima kekalahan dengan lapang dada. Sementara bagi pemenang, juga tetap menghormati tim yang kalah dengan tidak melakukan tindakan mencemooh, dan melecehkan. Inilah sebuah nilai sportivitas. Nilai-nilai persahabatan yang ada di olahraga seharusnya bisa diterapkan dalam kehidupan keseharian kita.
Karena pada hakikatnya olahraga juga akan memberikan dampak yang positif bagi para pelaku didalamnya, apalagi dalam masa modern dimana olahraga bisa dijadikan komoditi bisnis dan industri. Seorang atlet/olahragawan akan memiliki kehidupan dan penghidupan yang sangat layak dan lebih dari cukup dengan berkecimpung dalam bidang olahraga yang digelutinya.
Namun kembali bahwa nilai-nilai sportivitas tersebut harus dijalankan dan dijunjung tinggi dengan sungguh-sungguh oleh semua orang. Kesuksesan (baca: kemewahan) tetap bukan menjadi acuan atau tujuan akhir, karena hal itu bukanlah hakikat seseorang terjun dalam dunia olahraga. Kalaupun ada yang meraih kesuksesan diatas, biarlah itu adalah imbas dari prestasi yang diperolehnya. Dengan demikian, pembangunan dan pembinaan keolahragaan akan tetap menjadi satu sistem pendidikan terpadu bagi anak muda di Indonesia dalam mendukung pembangunan bangsa yang lebih luas.
DAFTAR PUSTAKA
Furqon, M. H. (1994). Menggalang Potensi Bangsa Salah Satu Usaha Untuk Mencapai Prestasi Olahraga Yang Membanggakan. Makalah diajukan dalam Rangka Lomba Karya Tulis Ilmiah Inovatif Keolahragaan HAORNAS XI/1994 (Juara I Kelompok Umum).
Gafur, Abdul (1983). Olahraga Unsur Pembinaan Bangsa dan Pembangunan Negara. Jakarta: Kantor Menpora.
Harsuki., Perkembangan Olahraga Terkini Kajian Para Pakar, Divisi Buku Sport PT Rajagrafindo Persada, Jakarta, 2003.
Satgas Porda XII dan Peparda IV KONI Kabupaten Garut, Laporan Perjalanan Kontingen Kabupaten Garut pada Porda XII dan Peparda IV di Kabupaten Bekasi Tahun 2014, Garut, 2014.
Lawson, H.A., Empowering people and advancing community development: The social work of sport, exercise, and physical education programs. Paper presented in International Conference on Sport and Sustainable Development. Yogyakarta, September 2003.
Mutohir, T.C & Lutan, R., Olahraga dan Transformasi Nilai. Dalam Rusli Lutan, Olahrga dan Etika Fair Play. Direktorat Jenderal Olahraga – Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, 2001.
Maksum, A., Pengkajian Sport Development Indeks (Cetakan 1). Surabaya: University Press, 2004.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar